A. Sejarah HIV
AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 juni
1981, ketika Centers for disease control and prevention mencatat adanya
Pneumonia pneumosistis pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles Amerika
Serikat. Dua spesies HIV yang diketahui menginfeksi manusia itu adalah HIV-1
dan HIV-2. HIV-1 lebih mematikan dan lebih mudah masuk kedalam tubuh, serta
merupakan sumber dari mayoritas infeksi HIV di dunia, sedangkan HIV-2 sulit
masuk didalam tubuh.
Di Indonesia sendiri prevalensi HIV/AIDS telah
bergerak dengan laju yang sangat menghawatirkan. Pada tahun 1987, kasus
HIV/AIDS ditemukan untuk pertama kalinya hanya di Pulau Bali.
Sementara sekarang 2010, hampir semua provinsi di Indonesia sudah ditemukan
kasus HIV/AIDS. Karena itulah indonesia sempat mendapat predikat sebagai negara
dengan penyebaran AIDS tercepat di Asia. Karena peningkatan HIV/AIDS yang
sangat signifikan dan mengkhawatirkan inilah pemerintah sampai memberikan
perhatian khusus pada penyakit ini dengan mendirikan komisi penanggulan AIDS
(KPA). Beberapa data tentang HIV/AIDS di Indonesia yang bersumber dari KPA
adalah :
a. Secara
kumulatif jumlah kasus AIDS yang dilaporkan sampai Desember 2009 adalah:
-
Kasus AIDS: 1670
-
Provinsi yang melaporkan: 32 provinsi
b. Dari 214 kabupaten/kota kasus AIDS yang
dilaporkan telah meninggal adalah 20,9 %.
c. Rate
kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan dari provinsi Papua(18,16 kali angka
nasional), Bali (4,7 kali angka nasional), DKI Jakarta (4,3 kali angka
nasional), Kep. Riau (3,2 kali angka nasional), Kalimantan Barat (2,5 kali
angka nasional), Maluku (2 kali angka nasional), Papua Barat (1,4 kali angka nasional), Kep.
Bangka Belitung (1,3 kali angka nasional), Riau (1,1 kali angka nasional), DI
Yogyakarta dan Sulawesi Utara (1,05 kali angka nasional) dan Jawa Barat (1,04
kali angka nasional).
d. Kasus
AIDS terbanyak dilaporkan dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Papua,
Bali, Kalimantan, Jawa Tengah,Sumatera Utara, Riau,Kepulauan Riau (Zulkoni,
2011).
B.
Definisi
HIV
AIDS (Acquired Immune Deficienci Syndrome) adalah
infeksi (atau sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh
manusia akibat dari infeksi virus HIV. Virus HIV ( Human Immunodiency Virus)
yaitu virus yang memperlemah sistem kekebalan tubuh manusia biasanya hanya
salah satu dari dua jenis virus (HIV-1 atau HIV-2) yang secara progessif
merusak sel-sel darah putih (limfosit) sehingga menyebabkan berkurang atau gagalnya
sistem kekebalan tubuh (Zulkoni, 2011).
AIDS mempengaruhi individu yang homoseksual
(tertarik pada jenis kelamin yang sama) ataupun heteroseksual atau tertarik
pada lawan jenis. Kelompok yang paling sering tertular oleh AIDS adalah
laki-laki homoseksual, laki-laki dan perempuan yang memiliki pasangan seksual
yang berganti-ganti, baik pada homoseksual dan heteroseksual, pengguna obat
melalui suntikan dan hemophiliacs (seseorang yang menderita kelainan darah yang
jarang yang memerlukan transfuse darah terus-menerus). Kelompok itu acapkali
dinamakan kelompok berisiko tinggi (Nugraha, 2006).
HIV adalah virus RNA yang termasuk dalam retrovirus
dengan ciri memiliki enzim reversetranskriptase (RT) yang setelah masuk ke
dalam limfosit akan berakibat:
1. Merusak
limfosit terutama CD4+ T cell dan macrophage, yaitu komponen vital dari sistem
kekebalan tubuh manusia, sehingga melemahkan/merusak fungsinya.
2. Mampu
mentranskripsi RNAnya menjadi DNA, DNA ini selanjutnya akan diinkofporasikan
kedalam genom sel limfo T yang diperintahkannya untuk memperbanyak virus itu
banyak.
Infeksi dari HIV menyebabkan pengurangan sistem
kekebalan tubuh dengan cepat, sehingga penderita mengalami kekurangan imunitas.
Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi dan mudah
terkena tumor.
AIDS merupakan kondisi yang menjelaskan kenaikan
tingkatan infeksi virus HIV. Dengan adanya AIDS, biasanya virus sudah
berkembang, menyebabkan kehilangan sel darah putih (sel CD4= / T helper cells)
secara signifikan, CD4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada dipermukan
sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD4 pada orang dengan
sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai
CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau
limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh
manusia.
Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai
CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan
yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama
akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol). Orang yang
mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit, karena sistem
kekebalan didalam tubuhnya telah menurun (Zulkoni, 2011).
A. DIAGNOSIS
Pasien
AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
primer akut yang lamanya 1-2 minggu pasien akan merasakan flu (Scorviani,
2012).
Disaat
fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami demam, keringat
dimalam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan ruam kulit,
limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral (Scorviani, 2012).
Disaat
fase infeksi Human Immunodeficiency Virus
(HIV) menjadi AIDS (bervariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS)
akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia
interstisial yang disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk meningitis,
kandidiasis, cytomegalovirus, mikrobakterial, dan atipikal (Scroviani 2012).
Ø Infeksi
Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam
berkeringat, lesu mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher,
radang kelenjar getah bening, dan bercak merah ditubuh.
Ø Infeksi
Human Immunodeficiency Virus (HIV)
tanpa gejala diketahui oleh pemeriksa kadar Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan diperoleh hasil positif.
Ø Radang
kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan
kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan (Scroviani,
2012).
Pemeriksaan
Diagnostik
a. Tes
Laboratorium
Telah
dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian.
Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan
memantau perkembangan penyakit serta responya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
(Scroviani, 2012).
1. Serologis
ü Tes
antibody serum untuk skrining Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif, tetapi bukan
merupakan diagnose.
ü Tes
blot western untuk Mengkonfirmasi diagnose Human
Immunodeficiency Virus (HIV).
ü Sel
T limfosit untuk penurunan jumlah total.
ü Sel
T4 helper untuk Indikator system imun (jumlah <200)
ü T8
(sel supresorsitopatik) untuk rasio terbalik (2:1) atau lebih besar dari sel
suppressor pada sel helper (T8 ke T4) mengindikasikan supresi imun.
ü P24
(Protein pembungkus Human
Immunodeficiency Virus (HIV) menilai peningkatan nilai kuantitatif protein
mengidentifikasi progresi infeksi.
ü Kadar
Ig menilai meningkat, terutama Ig A,Ig G, Ig M yang normal atau mendekati
normal.
ü Reaksi
rantai polimererase menilai menditeksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada
infeksi sel perifer monoselular.
ü Tes
PHS menilai pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMW mungkin positif
(Scroviani, 2012).
2. Rutin
Histologist,
pemeriksaan sitologis urine, darah, faces, cairan spina, luka, sputum, dan
sekresi, untuk mengidentifikasi adanya infeksi: parasit, protozoa, jamur,
bakteri, viral (Scroviani, 2012).
3. Neurologis
EEG, MRI, CT Scan otak,
EMG (Pemeriksaan saraf) (Scroviani, 2012).
4. Tes
Lainnya
ü Sinar
X dada untuk menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap
lanjut atau adanya komplikasi lain
ü Tes
fungsi Pulmonal untuk Deteksi awal pneumonia interstisial
ü Skan
Gallium untuk Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia
lainnya
ü D.Biopsis
untuk diagnose lain dari sarcoma Kaposie
ü E.Bronkoskopi/pencucian
trakeobronkia untuk dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan
kerusakan paru-paru (Scrovani,2012).
b. Tes
Antibodi
·
Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka
sistem imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut.
Antibody terbentuk dalam 3-12 minggu setelah infeksi, atau bias sampai 6-12
bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak
memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif,
kemampuan mendeteksi antibody Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah
dan memudahkan evaluasi diagnostic.
·
Pada tahun 1985 Food and Drug
Administration (FDA) member lisensi tentang uji-kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau
plasma. Tes tersebut yaitu:
v Tes
Enzym-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) untuk mengidentifikasi antibody yang
secara spesifik ditujukan kepada virus Human
Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnose AIDS tapi
hanya menunjukan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Orang yang dalam darahnya terdapat antibody Human
Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif.
v Western
Blot Assay untuk mengenali antibody Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV).
v Indirect
Immunoflouresence untuk pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan
seropositifitas.
v Radio
Immuno Precipitation Assay (RIPA) untuk Mendeteksi protein dari pada antibody
(Scorviani, 2012).
c. Pelacakan
Human Immunodeficiency Virus (HIV)
·
Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk
melacak perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut disebut protein
virus p24, pemeriksaan p24 antigen capture assay sangat spesifik untuk HIV-1,
tapi kadar p24 pada penderita infeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV)sangat rendah, pasien dengan titer p24 punya
kemungkinan lebih lanjut lebih besar dari menjadi AIDS. Pemeriksaan ini
digunakan tes lainnya untuk mengevaluasi efek anti virus (Scorviani, 2012).
·
Pemeriksaan kultur Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau kultur plasma kuantitatif
dan viremia plasma merupakan tes tambahan yang mengukur beban virus (viral
burden) AIDS muncul setelah benteng pertahanan tubuh yaitu sistem kekebalan
alamiah melawan bibit penyakit rubtuh oleh virus HIV, dengan
runtuhnya/hancurnya sel-sel limfosit T karena kekurangan sel T, maka penderita
mudah sekali terserang infeksi dan kanker yang sederhana sekalipun, yang untuk
orang normal tidak berarti.
·
Jadi bukan AIDS nya sendiri yang
menyebabkan kematian penderita, melainkan infeksi dan kanker yang di deritanya.
HIV biasanya di tularkan melalui hubungan seks dengan orang yang mengidap virus
tersebut dan terdapat kontak langsung dengan darah atau produk darah dan cairan
tubuh lainnya.
·
Pada wanita virus mungkin masuk melalui
luka atau lecet pada mulut rahim/vagina. Begitu pula virus memasuki aliran
darah pria jika pada genitalnya ada luka/lecet. Hubungan seks melalui anus
beresiko tinggi untuk terinfeksi, namun juga vaginal dan oral.
·
HIV juga dapat di tularkan melalui
kontak langsung darah dengan darah, seperti jarum suntik (pecandu obat narkotik
suntikan), transfusi darah/produk darah dan ibu hamil ke bayinya saat melahirkan.
·
Tidak ada bukti penularan melalui kontak
sehari-hari seperti berjabat tangan, mencium, gelas bekas di pakai penderita,
handuk atau melalui closet umum, karena virus ini sangat rapuh.
·
Masa inkubasi/masa laten sangat
tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing orang, rata-rata 5-10 tahun.
Selama masa ini orang tidak memperlihatkan gejala-gejala, walaupun jumlah HIV
semakin bertambah dan sel T4 semakin menurun. Semakin rendah jumlah sel T4,
semakin rusak sistem kekebalan tubuh.
·
Pada waktu sistem kekebalan tubuh sudah
dalam keadaan parah, seseorang yang mengidap HIV/AIDS akan mulai menampakkan
gejala-gejala AIDS (Scroviani, 2012).
B. Pencegahan
Belum ada penyembuhan ubtuk AIDS, jadi
perlu dilakukan pencegahan Humman
Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Humman Immunodeficiency Virus (HIV),
bisa dilakukan:
1. Abstain
dari seks
2. Berprilaku
monogamy
3. Menggunakan
pengaman ketika mekakukan kontak seksual seperti menggunakan kondom.
4. Menghinadari
penggunaan jarum secara bersama-sama
5. Menghindari
pengguanaa alcohol dan drugs
6. Menghindari
transfuse darah jika tidak benar-benar diperlukan
7. Risiko
penularaan HIV dari wanita hamil kepada janin/bayi berkurang secara signifikan
apabila ibu mengkonsumsi obat selama kehamilan dan memeriksakan serta
memberikan bay sejumlah obat selama enam bulan pertama. HIV harus diketahui
sedini mungkin selama kehamilan (Zulkoni,2011)
C. Mekanisme
Infeksi HIV pada Manusia
1. Fase
pertama
Orang yang terkena
infeksi menjadi bersifat zero positif, artinya orang tersebut tamapa sehatdan
setelah enam bulan darahnya baru dapat dideteksi HIVnya secara tidak langsung.
Gejala yang muncul adalah flu berat.
2. Fase
kedua
Sistem imun menangkap
dan mengurung virus dikelenjar limfa diaman reproduksi berlangsung terus.
Jaringan yang terinfeksi dan HIV yang lolos dimusnahkan oleh masing-masing
T-killer cell dan antibody. Banyak HIV yang meloloskan diri dan masuk ke dalam
sirkulasi, juga ebih banyak limfo-T yang mati dan sistem imun semakin lemah.
3. Fase
ketiga
1-12 tahun kemudian
jumlah HIV dalam darah menjadi lebih banyak sekali dan jumlah limfo T helper
cell (CD4+) turun (Zulkoni,2011).
D. Tata
Laksana Penyakit
§ Kaji
afek klien dan dengarkan dengan penuh perhatian cara berkomunikasi pada klien
(pola dan isinya) berkaitan dengan HIV/AIDS.
§ Ketahui
bahwa peran penyuluhan dapat menjadi strategi preventif yang sangat efektif.
§ Pastikan
tujuan dilakukannya uji bagi setiap orang telah dipindai dan kaji bila ada
potensi risiko HIV dengan menggunakan informasi yang diberikan.
§ Dapatkan
formulir persetujuan yang ditandatangani oleh klien untuk uji antibody HIV
dan/atau uji pemindaian antigen.
§ Berikan
pada klien yang menjalani pemindaian antibody HIV atau antigen, konseling
prauji yang komprehensif, perlindungan terhadap informasi rahasia yang telah diberikan,
pendidikan pascauji yang akurat dan komperhensif secara konsisten, dukungan
ketika menunggu hasil uji, dan dukungan tindak lanjut serta rujukan yang
diperlukan.
§ Berikan
informasi yang jelas tentang peralatan uji darah terhadap HIV yang dijual bebas,
yang dapat dilakukan di rumah agar dapat memberikan saran yang tepat pada
klien, yang mungkin memilih untuk melakukan uji sendiri di awal dan mengalami
berbagai masalah positif dan negative berkaitan dengan dampak dari pilihan ini.
§ Mengumpulkan
informasi yang akurat dan terbaru tentang data professional kesehatan dan
sumber daya lainnya (bila ada, disertai pula dengan nomor telpon dan alamat)
untuk tujuan rujukan jika diperluka.
§ Meningkatkan
pengetahuan tentang infeksi HIV dan penyakit terkait AIDS yang lengkap agar
dapat mengatasi masalah klien dengan tepat, baik yang actual maupun potensial,
saat berperan sebagai perawat pendidik.
§ Mempersiapkan
diri untuk menjelaskan dan mengklarifikasi makna temuan uji bagi klien yang
mengalami krisis situasional, berkaitan dengan proses dan/atau temuan uji.
§ Implementasikan
tindakan kewaspadaan standar, yang
menggabungkan berbagai penjelasan utama tentang kewaspadaan umum (darah dan
cairan tubuh) yang dirancang untuk mengurangi resiko transmisi penyakit
pathogen yang melalui darah dan isolasi zat tubuh (dilakukan untuk mengurangi
risiko transmisi pathogen dari substansi
tubuh yang lembab), dan menerapkannya pada semua klien , tanpa memedulikan
diagnosis dan dugaan status infeksi, standar tindakan ini berlaku pada darah,
semua cairan tubuh, sekresi, dan ekskresi (kecuali keringat), tanpa memedulikan
apakah ada darah yang terlihat, atau kulit atau membrane mukosa yang tidak
utuh. Tujuannya adalah agar sebagian besar klien akan merasa diperlakukan sama
dengan yang lainnya.
§ Rawat
pasien dengan empati, Jangan bersikap menghakimi klien HIV/AIDS dan
keluarganya, berkaitan dengan bagaimana penyakit tersebut didapat.
§ Hindari
stigmata & diskriminasi pasien.
§ Jaga
kerahasiaan status pasien.
§ Jangan takut merawat pasien, risiko tertular pada petugas kesehatan sangat
rendah.
§ Deteksi
adanya depresi dan ansietas Putus asa sering membunuh pasien lebih cepat dari
penyakitnya sendiri.
§ Pantau
hasil laboratorium untuk mengidentifikasi penurunan jumlah sel limfosit CD4+,
beri tahu pemberi layanan kesehatan.
§ Kaji
apakah terdapat tanda dan gejala yang berkaitan dengan perkembangan klinis kea
rah depresi sistem imun, termasuk penurunan berat badan yang involunter, diare
kronis, kelemahan kronis, dan demam intermiten atau konstan (Kee, 2007)
DAFTAR PUSTAKA
Zulkoni.A
.2011. PARASITOLOGI. Yogyakarta ; Nuha Medika.
Scorviani
V, Nugroho Taufan. 2012. Menangkap Tuntas PMS
(
Penyakit Menular Seksual). Yogyakarta ; Nuha Medika
Jawetz,
dkk. 2007. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta ; EGC.
Kee
L.J. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik. Jakarta ;
EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar