Rabu, 08 Juli 2015

HIV-AIDS




A.    Sejarah HIV
AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 juni 1981, ketika Centers for disease control and prevention mencatat adanya Pneumonia pneumosistis pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles Amerika Serikat. Dua spesies HIV yang diketahui menginfeksi manusia itu adalah HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 lebih mematikan dan lebih mudah masuk kedalam tubuh, serta merupakan sumber dari mayoritas infeksi HIV di dunia, sedangkan HIV-2 sulit masuk didalam tubuh.
Di Indonesia sendiri prevalensi HIV/AIDS telah bergerak dengan laju yang sangat menghawatirkan. Pada tahun 1987, kasus HIV/AIDS  ditemukan  untuk pertama kalinya hanya di Pulau Bali. Sementara sekarang 2010, hampir semua provinsi di Indonesia sudah ditemukan kasus HIV/AIDS. Karena itulah indonesia sempat mendapat predikat sebagai negara dengan penyebaran AIDS tercepat di Asia. Karena peningkatan HIV/AIDS yang sangat signifikan dan mengkhawatirkan inilah pemerintah sampai memberikan perhatian khusus pada penyakit ini dengan mendirikan komisi penanggulan AIDS (KPA). Beberapa data tentang HIV/AIDS di Indonesia yang bersumber dari KPA adalah :
a.       Secara kumulatif jumlah kasus AIDS yang dilaporkan sampai Desember 2009 adalah:
-          Kasus AIDS: 1670
-           Provinsi yang melaporkan: 32 provinsi
b.       Dari 214 kabupaten/kota kasus AIDS yang dilaporkan telah meninggal adalah 20,9 %.
c.       Rate kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan dari provinsi Papua(18,16 kali angka nasional), Bali (4,7 kali angka nasional), DKI Jakarta (4,3 kali angka nasional), Kep. Riau (3,2 kali angka nasional), Kalimantan Barat (2,5 kali angka nasional), Maluku (2 kali angka nasional),  Papua Barat (1,4 kali angka nasional), Kep. Bangka Belitung (1,3 kali angka nasional), Riau (1,1 kali angka nasional), DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara (1,05 kali angka nasional) dan Jawa Barat (1,04 kali angka nasional).
d.      Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Papua, Bali, Kalimantan, Jawa Tengah,Sumatera Utara, Riau,Kepulauan Riau (Zulkoni, 2011).

B.     Definisi HIV
AIDS (Acquired Immune Deficienci Syndrome) adalah infeksi (atau sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat dari infeksi virus HIV. Virus HIV ( Human Immunodiency Virus) yaitu virus yang memperlemah sistem kekebalan tubuh manusia biasanya hanya salah satu dari dua jenis virus (HIV-1 atau HIV-2) yang secara progessif merusak sel-sel darah putih (limfosit) sehingga menyebabkan berkurang atau gagalnya sistem kekebalan tubuh (Zulkoni, 2011).
AIDS mempengaruhi individu yang homoseksual (tertarik pada jenis kelamin yang sama) ataupun heteroseksual atau tertarik pada lawan jenis. Kelompok yang paling sering tertular oleh AIDS adalah laki-laki homoseksual, laki-laki dan perempuan yang memiliki pasangan seksual yang berganti-ganti, baik pada homoseksual dan heteroseksual, pengguna obat melalui suntikan dan hemophiliacs (seseorang yang menderita kelainan darah yang jarang yang memerlukan transfuse darah terus-menerus). Kelompok itu acapkali dinamakan kelompok berisiko tinggi (Nugraha, 2006).
HIV adalah virus RNA yang termasuk dalam retrovirus dengan ciri memiliki enzim reversetranskriptase (RT) yang setelah masuk ke dalam limfosit akan berakibat:
1.      Merusak limfosit terutama CD4+ T cell dan macrophage, yaitu komponen vital dari sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga melemahkan/merusak fungsinya.
2.      Mampu mentranskripsi RNAnya menjadi DNA, DNA ini selanjutnya akan diinkofporasikan kedalam genom sel limfo T yang diperintahkannya untuk memperbanyak virus itu banyak.
Infeksi dari HIV menyebabkan pengurangan sistem kekebalan tubuh dengan cepat, sehingga penderita mengalami kekurangan imunitas. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi dan mudah terkena tumor.
AIDS merupakan kondisi yang menjelaskan kenaikan tingkatan infeksi virus HIV. Dengan adanya AIDS, biasanya virus sudah berkembang, menyebabkan kehilangan sel darah putih (sel CD4= / T helper cells) secara signifikan, CD4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada dipermukan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia.
Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol). Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit, karena sistem kekebalan didalam tubuhnya telah menurun (Zulkoni, 2011).





A.  DIAGNOSIS
Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1-2 minggu pasien akan merasakan flu (Scorviani, 2012).
Disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami demam, keringat dimalam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan ruam kulit, limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral (Scorviani, 2012).
Disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bervariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk meningitis, kandidiasis, cytomegalovirus, mikrobakterial, dan atipikal (Scroviani 2012).
Ø  Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam berkeringat, lesu mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher, radang kelenjar getah bening, dan bercak merah ditubuh.
Ø  Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala diketahui oleh pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan diperoleh hasil positif.
Ø  Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan (Scroviani, 2012).
Pemeriksaan Diagnostik
a.       Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV) (Scroviani, 2012).
1.      Serologis
ü  Tes antibody serum untuk skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif, tetapi bukan merupakan diagnose.
ü  Tes blot western untuk Mengkonfirmasi diagnose Human Immunodeficiency Virus (HIV).
ü  Sel T limfosit untuk penurunan jumlah total.
ü  Sel T4 helper untuk Indikator system imun (jumlah <200)
ü  T8 (sel supresorsitopatik) untuk rasio terbalik (2:1) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper (T8 ke T4) mengindikasikan supresi imun.
ü  P24 (Protein pembungkus Human Immunodeficiency Virus (HIV) menilai peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi.
ü  Kadar Ig menilai meningkat, terutama Ig A,Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal.
ü  Reaksi rantai polimererase menilai menditeksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoselular.
ü  Tes PHS menilai pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMW mungkin positif (Scroviani, 2012).
2.      Rutin
Histologist, pemeriksaan sitologis urine, darah, faces, cairan spina, luka, sputum, dan sekresi, untuk mengidentifikasi adanya infeksi: parasit, protozoa, jamur, bakteri, viral (Scroviani, 2012).
3.      Neurologis
EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (Pemeriksaan saraf) (Scroviani, 2012).
4.      Tes Lainnya
ü  Sinar X dada untuk menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau adanya komplikasi lain
ü  Tes fungsi Pulmonal untuk Deteksi awal pneumonia interstisial
ü  Skan Gallium untuk Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia lainnya
ü  D.Biopsis untuk diagnose lain dari sarcoma Kaposie
ü  E.Bronkoskopi/pencucian trakeobronkia untuk dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru (Scrovani,2012).
b.      Tes Antibodi
·         Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka sistem imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3-12 minggu setelah infeksi, atau bias sampai 6-12 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic.
·         Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) member lisensi tentang uji-kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau plasma. Tes tersebut yaitu:
v  Tes Enzym-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) untuk mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnose AIDS tapi hanya menunjukan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam darahnya terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif.
v  Western Blot Assay untuk mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV).
v  Indirect Immunoflouresence untuk pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas.
v  Radio Immuno Precipitation Assay (RIPA) untuk Mendeteksi protein dari pada antibody (Scorviani, 2012).
c.       Pelacakan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
·         Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk melacak perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut disebut protein virus p24, pemeriksaan p24 antigen capture assay sangat spesifik untuk HIV-1, tapi kadar p24 pada penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)sangat rendah, pasien dengan titer p24 punya kemungkinan lebih lanjut lebih besar dari menjadi AIDS. Pemeriksaan ini digunakan tes lainnya untuk mengevaluasi efek anti virus (Scorviani, 2012).
·         Pemeriksaan kultur Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau kultur plasma kuantitatif dan viremia plasma merupakan tes tambahan yang mengukur beban virus (viral burden) AIDS muncul setelah benteng pertahanan tubuh yaitu sistem kekebalan alamiah melawan bibit penyakit rubtuh oleh virus HIV, dengan runtuhnya/hancurnya sel-sel limfosit T karena kekurangan sel T, maka penderita mudah sekali terserang infeksi dan kanker yang sederhana sekalipun, yang untuk orang normal tidak berarti.
·         Jadi bukan AIDS nya sendiri yang menyebabkan kematian penderita, melainkan infeksi dan kanker yang di deritanya. HIV biasanya di tularkan melalui hubungan seks dengan orang yang mengidap virus tersebut dan terdapat kontak langsung dengan darah atau produk darah dan cairan tubuh lainnya.
·         Pada wanita virus mungkin masuk melalui luka atau lecet pada mulut rahim/vagina. Begitu pula virus memasuki aliran darah pria jika pada genitalnya ada luka/lecet. Hubungan seks melalui anus beresiko tinggi untuk terinfeksi, namun juga vaginal dan oral.
·         HIV juga dapat di tularkan melalui kontak langsung darah dengan darah, seperti jarum suntik (pecandu obat narkotik suntikan), transfusi darah/produk darah dan ibu hamil ke bayinya saat melahirkan.
·         Tidak ada bukti penularan melalui kontak sehari-hari seperti berjabat tangan, mencium, gelas bekas di pakai penderita, handuk atau melalui closet umum, karena virus ini sangat rapuh.
·         Masa inkubasi/masa laten sangat tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing orang, rata-rata 5-10 tahun. Selama masa ini orang tidak memperlihatkan gejala-gejala, walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel T4 semakin menurun. Semakin rendah jumlah sel T4, semakin rusak sistem kekebalan tubuh.
·         Pada waktu sistem kekebalan tubuh sudah dalam keadaan parah, seseorang yang mengidap HIV/AIDS akan mulai menampakkan gejala-gejala AIDS (Scroviani, 2012).
B.   Pencegahan
Belum ada penyembuhan ubtuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Humman Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Humman Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan:
1.      Abstain dari seks
2.      Berprilaku monogamy
3.      Menggunakan pengaman ketika mekakukan kontak seksual seperti menggunakan kondom.
4.      Menghinadari penggunaan jarum secara bersama-sama
5.      Menghindari pengguanaa alcohol dan drugs
6.      Menghindari transfuse darah jika tidak benar-benar diperlukan
7.      Risiko penularaan HIV dari wanita hamil kepada janin/bayi berkurang secara signifikan apabila ibu mengkonsumsi obat selama kehamilan dan memeriksakan serta memberikan bay sejumlah obat selama enam bulan pertama. HIV harus diketahui sedini mungkin selama kehamilan (Zulkoni,2011)

C.   Mekanisme Infeksi HIV pada Manusia
1.      Fase pertama
Orang yang terkena infeksi menjadi bersifat zero positif, artinya orang tersebut tamapa sehatdan setelah enam bulan darahnya baru dapat dideteksi HIVnya secara tidak langsung. Gejala yang muncul adalah flu berat.
2.      Fase kedua
Sistem imun menangkap dan mengurung virus dikelenjar limfa diaman reproduksi berlangsung terus. Jaringan yang terinfeksi dan HIV yang lolos dimusnahkan oleh masing-masing T-killer cell dan antibody. Banyak HIV yang meloloskan diri dan masuk ke dalam sirkulasi, juga ebih banyak limfo-T yang mati dan sistem imun semakin lemah.
3.      Fase ketiga
1-12 tahun kemudian jumlah HIV dalam darah menjadi lebih banyak sekali dan jumlah limfo T helper cell (CD4+) turun (Zulkoni,2011).
D.  Tata Laksana Penyakit
§  Kaji afek klien dan dengarkan dengan penuh perhatian cara berkomunikasi pada klien (pola dan isinya) berkaitan dengan HIV/AIDS.
§  Ketahui bahwa peran penyuluhan dapat menjadi strategi preventif yang sangat efektif.
§  Pastikan tujuan dilakukannya uji bagi setiap orang telah dipindai dan kaji bila ada potensi risiko HIV dengan menggunakan informasi yang diberikan.
§  Dapatkan formulir persetujuan yang ditandatangani oleh klien untuk uji antibody HIV dan/atau uji pemindaian antigen.
§  Berikan pada klien yang menjalani pemindaian antibody HIV atau antigen, konseling prauji yang komprehensif, perlindungan terhadap informasi rahasia yang telah diberikan, pendidikan pascauji yang akurat dan komperhensif secara konsisten, dukungan ketika menunggu hasil uji, dan dukungan tindak lanjut serta rujukan yang diperlukan.
§  Berikan informasi yang jelas tentang peralatan uji darah terhadap HIV yang dijual bebas, yang dapat dilakukan di rumah agar dapat memberikan saran yang tepat pada klien, yang mungkin memilih untuk melakukan uji sendiri di awal dan mengalami berbagai masalah positif dan negative berkaitan dengan dampak dari pilihan ini.
§  Mengumpulkan informasi yang akurat dan terbaru tentang data professional kesehatan dan sumber daya lainnya (bila ada, disertai pula dengan nomor telpon dan alamat) untuk tujuan rujukan jika diperluka.
§  Meningkatkan pengetahuan tentang infeksi HIV dan penyakit terkait AIDS yang lengkap agar dapat mengatasi masalah klien dengan tepat, baik yang actual maupun potensial, saat berperan sebagai perawat pendidik.
§  Mempersiapkan diri untuk menjelaskan dan mengklarifikasi makna temuan uji bagi klien yang mengalami krisis situasional, berkaitan dengan proses dan/atau temuan uji.
§  Implementasikan tindakan kewaspadaan standar, yang menggabungkan berbagai penjelasan utama tentang kewaspadaan umum (darah dan cairan tubuh) yang dirancang untuk mengurangi resiko transmisi penyakit pathogen yang melalui darah dan isolasi zat tubuh (dilakukan untuk mengurangi risiko transmisi  pathogen dari substansi tubuh yang lembab), dan menerapkannya pada semua klien , tanpa memedulikan diagnosis dan dugaan status infeksi, standar tindakan ini berlaku pada darah, semua cairan tubuh, sekresi, dan ekskresi (kecuali keringat), tanpa memedulikan apakah ada darah yang terlihat, atau kulit atau membrane mukosa yang tidak utuh. Tujuannya adalah agar sebagian besar klien akan merasa diperlakukan sama dengan yang lainnya.
§  Rawat pasien dengan empati, Jangan bersikap menghakimi klien HIV/AIDS dan keluarganya, berkaitan dengan bagaimana penyakit tersebut didapat.
§  Hindari stigmata & diskriminasi pasien.
§  Jaga kerahasiaan status pasien.
§   Jangan takut merawat pasien,  risiko tertular pada petugas kesehatan sangat rendah.
§  Deteksi adanya depresi dan ansietas Putus asa sering membunuh pasien lebih cepat dari penyakitnya sendiri.
§  Pantau hasil laboratorium untuk mengidentifikasi penurunan jumlah sel limfosit CD4+, beri tahu pemberi layanan kesehatan.
§  Kaji apakah terdapat tanda dan gejala yang berkaitan dengan perkembangan klinis kea rah depresi sistem imun, termasuk penurunan berat badan yang involunter, diare kronis, kelemahan kronis, dan demam intermiten atau konstan (Kee, 2007)




DAFTAR PUSTAKA

Zulkoni.A .2011. PARASITOLOGI. Yogyakarta ; Nuha Medika.
Scorviani V, Nugroho Taufan. 2012. Menangkap Tuntas PMS
( Penyakit Menular Seksual). Yogyakarta ; Nuha Medika
Jawetz, dkk. 2007. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta ; EGC.
Kee L.J. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik. Jakarta ; EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar