1. Struktur mata
Cahaya masuk kedalam mata
melalui jendela transparan di dalam skelera yaitu kornea, kemudian melewati
pupil yang ada lubang di dalam tabir otot yang disebut iris. Iris ini
berpigmen. Iris dapat berkontraksi dan berdilatasi terhadap berbagai jumlah
cahaya yang masuk ke mata. Cahaya difokuskan oleh lensa yang elastic, tepat
dibelakang iris. Ligamen menahan lensa ke korpus siliaris, bagian anterior dari
lapisan koroid. SInar difokuskan sebagai bayangan terbalik pada retina
dibelakang mata. Retina hampir transparan dan bagian anterior mata mempunyai
penampilan hitam coklat gelap karena lapisan koroid yang berpigmen dan
bervaskuler. Serabut-serabut saraf dari retina menjalar serabut-serabut saraf
dari retina menjalar melalui sekelompok lubang-lubang di dalam sclera, pada
diskusi optikus membentuk saraf optikus ke otak (Cambridge, 1999).
Ambang penglihatan adalah
jumlah cahaya minimum yang mencetuskan sensasi akan cahaya, ketajaman
penglihatan adalah derajat persepsi detail dan kontur benda. Ketajaman
penglihatan biasanya didiferensiasikan berkaitan dengan minimum separable,
yaitu jarak terpendek dimana 2 garis masih terlihat terpisah dan tetap terlihat
sebagai 2 garis. Secara klinis, ketajaman penglihatan sering ditentukan dengan
menggunakan grafik huruf snellen yang dilihat dari suatu jarak 20 ft (6m)
(Ganong, 1999).
Orang yang sedang
diperiksa membaca garis terkecil yang masih dapat dibedakan dan hasilnya
dinyatakan dalam fraksi. Pembilang fraksi tersebut adalah 20, jarak subjek
membaca grafik, sedangkan penyebutan adalah jarak terjauh dari grafik dimana
seorang yang normal dapat membaca grafik terkecil yang dapat dibaca orang yang
diperiksa. Ketajaman penglihatan normal adalah 20/20, seorang dengan ketajaman
penglihatan 20/15 memiliki penglihatan yang lebih baik dari pada normal (tidak
rabun dekat) dan seseorang yang memiliki ketajaman penglihatan 20/100 memiliki
penglihatan yang dibawah normal (Ganong, 1999).
Ketajaman penglihatan
dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu factor optis misalnya keadaan
mekanisme pembentukan citra pada mata, factor retina misalnya keadaan sel
kerucut, dan factor rangsangan dan latar belakang, dan lama waktu subjek
terpajan rangsangan ( Ganong, 1999).
2. Visus (Ketajaman Penglihatan)
Untuk dapat melihat,
stimulus (cahaya) harus jatuh direseptor dalam retina kemudian diteruskan ke
pusat penglihatan (fovea centralis). Untuk dapat melihat dengan baik perlu
ketajaman penglihatan. Ketajaman penglihatan inilah yang disebut visus.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan visus adalah :
a. Sifat fisis mata, yang
meliputi ada tidaknya aberasi (kegagalana sinar melewati suatu system optic),
besarnya pupil, komposisi cahaya, fiksasi ojek, dan mekanisme akomodasinya
dengan elastisitas muscular ciliarisnya yang dapat menyebabkan ametropia yang
meliputi :
1) Myopi, sinar sejajar axis
pada mata tak berakomodasi akan memusat dimuka retina, sehingga bayangan kabur.
Dapat disebabkan oleh : axis terlalu panjang, kekuatan reflaksi lensa terlalu
kuat.
2) Hypermetropia, sinar
sejajar axis pada amata yang tak berakomodasi akan memusat dibelakang retina,
sehingga bayangan kabur. Dapat disebabkan oleh : axis boala mata terlalu
pendek, kekuatan reflaksi lensa kurang kuat.
3) Artigmatisma, kesalahan
reflaksi system lensa mata yang biasanya disebabkan oleh kornea yang berbentuk
bujur sangkar atau jarang-jarang, dan lensa yang berbentuk bujur).
b. Factor stimulus, yang
meliputi kontras (terbentuknya bayangan benda yang berwarna komplemennya),
besar kecilnya stimulus, lamanya melihat, dan intensitas cahaya.
c. Factor retina, yaitu makin
kecil dan makin rapat conus, makin kecil minimum separable (jarak terkecil
antara garis yang masih terpisah).
Mengukur visus (Ketajaman
Penglihatan)
Untuk mengetahui visus adalah dengan menggunakan suatu
pecahan matematis yang menyatakan perbandingan 2 jarak, yang juga merupakan
perbandingan ketajaman penglihatan seseorang dengan ketajaman penglihatan orang
normal. Dalam praktek digunakan optotype dari Snellen V= Visus d= jarak antara
optotype dengan subjek yang diperiksa D=jarak sejauh mana huruf-huruf masih
dapat dibaca mata normal.
Punctum Proximum
Visus berkaitan erat dengan mekanisme akomodasi seperti
yang telah disebutkan di atas, adanya kontraksi akan menyebabkan peningkatan
kekuatan lensa, sedangkan relaksasi bats maksimum, jika benda yang telah focus
didekatkan lagi, maka bayangan akan kabur. Titik terdekat yang masih dilihat
jelas oleh mata dengan akomodasi maksimum disebut punctum proximum (PP).
Punctum Remotum adalah titk terjauh yang masih dapat dilihat dengan jelas tanpa
mata berakomodasi adalah tidak terbatas. Kondisi ini disebut dengan punctum
remotum (PR).
3. Kelainan Mata
Apabila benda yang dilihat jatuh di depan fovea sentralis
disebut rabun jauh (Myopi) dan dapat diatasi dengan lensa cekung (negative),
bila benda yang dilihat jatuh dubelakang fovea sentralis disebut rabun dekat
(hypermetropi), hal ini dapat diatasi dengan menggunakan lensa cembung (
positif). Seseorang yang mengalami rabun dapat diperbaiki dengan kacamata jenis
silindris yang berfungsi untuk mengatasi kedua rabun tersebut, tetapi bila
elastisitas lensa kristalina menurun karena usia dan pengapuran dapat terjadi
buramnya/kaburnya penglihatan yang disebut sebagai katarak. Melihat satu benda
dengan kadua belah mata maka benda tersebut dapat terlihat dengan baik karena
jatuh ttik identik, tetapi bilah salah satu bola mata diganggu maka akan
terlihat benda rangkap (diplopia) karena tidak jatuh di titik identik kelainan
genetik yang terjadi adalah blind color (buta warna).
4.
Gejala / Ciri-ciri
Buta warna Total dan Partial
Ada suatu kondisi dimana
seseorang tidak dapat melihat warna sama sekali. Cacat tersebut dinamakan buta
warna yang mempengaruhi total maupun sebagai kemampuan individu untuk
membedakan warna. Variasi dari buta warna yang dibawa sejak lahir cukup nyata,
antara lain :
a. Akromatisme atau
Akromatopsia, adalah kebutaan warna total dimana semua warna dilihat sebagai
tingkatan warna abu-abu
b. Diakromatisme, adalah
kebutaan tidak sempurna yang menyatukan ketidakmampuan untuk membedakan
warna-warna merah dan hijau. Untuk kesimpangsiuran warna ini ada tiga tipe,
yaitu:
·
Deutrinophia, yaitu orang yang kehilangan kerucut hijau
sehinggga ia tidak dapat melihat warna hijau
·
Protanophia, yaitu orang yang kehilangan kerucut merah
sehingga ia buta warna merah
·
Tritanophia, yaitu kondisi yang ditandai oleh ketidakberesan
dalam warna biru dan kuning dimana conus biru atau kuning tidak peka terhadap
suatu daerah spectrum visual
5.
Factor yang mempengaruhi
Menurut Iltas (1997) ada beberapa factor yang mempengaruhi visus atau ketajaman
melihat pada mata, yaitu :
a. Kekerapan Reseptor pada
Retina, Helmholtz menyatakan bahwa suatu kisi dapat dilihat sebagai suatu objek
yang terpisah jika terdapat barisan reseptor yang tidak terstimulasi di antara
barisan reseptor yang terstimulasi. Hal ini disebut sebagai Yes-No-Yes
Reseptor pada reseptor di retina. Kesalahan Refraksi
b. Refraksi adalah perubahan
arah dari suatu gelombang (cahaya atau suara) ketika melewati medium yang
berbeda indeks refraksinya. Kesalahan refraksi akan mempengaruhi VA oleh karena
bayangan tidak jatuh tepat pada retina. Hal ini akan memburamkan gambaran detil
dari suatu objek.
c. Ukuran pupil meerupakan
factor penting yang mempengaruhi VA. Pupil yang besar akan menyebabkan lebih
banyak cahaya menstimuluskan retina, sehingga mengurangi difraksi yang terjadi.
d. Iluminasi (Penerangan)
dipengaruhi oleh iluminasi. Pada retina letak sel-sel kerucut dan sel-sel
batang tersebar secara acak. Pada keadaan yang terang, semua sel aktif,
sehingga didapatkan VA yang tinggi. Pada keadaan yang redup, hanya sel yang
sensitif terhadap cahaya redup yang aktif. Oleh karena itu pada keadaan cahaya
yang redup, kerapatan sel-sel reseptor akan berkurang. Hal inilah yang
menyebabkan VA juga berkurang pada cahaya redup.
e. Waktu Pajanan terhadap
Objek, VA dipengaruhi oleh waktu pajanan terhadap objek. Namun untuk mendeteksi
sebuah titik cahaya, kuantitas dari cahaya tersebut lebih menentukan daripada
waktu pajanannya.
f.
Area Retina yang Distimulasikan, Oleh karena sel-sel kerucut
yang lebih banyak terdapat pada fovea, VA terbesar didapatkan pada area fiksasi
sentral.
g. Pergerakan Bola Mata, Pada
saat fiksasi, sebenarnya mata berada dalam keadaan pergerakan konstan. Bayangan
di retina bergerak 3 menit busur dalam 1 detik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar