Jumat, 05 Juni 2015

SPH

1.      Struktur mata
Cahaya masuk kedalam mata melalui jendela transparan di dalam skelera yaitu kornea, kemudian melewati pupil yang ada lubang di dalam tabir otot yang disebut iris. Iris ini berpigmen. Iris dapat berkontraksi dan berdilatasi terhadap berbagai jumlah cahaya yang masuk ke mata. Cahaya difokuskan oleh lensa yang elastic, tepat dibelakang iris. Ligamen menahan lensa ke korpus siliaris, bagian anterior dari lapisan koroid. SInar difokuskan sebagai bayangan terbalik pada retina dibelakang mata. Retina hampir transparan dan bagian anterior mata mempunyai penampilan hitam coklat gelap karena lapisan koroid yang berpigmen dan bervaskuler. Serabut-serabut saraf dari retina menjalar serabut-serabut saraf dari retina menjalar melalui sekelompok lubang-lubang di dalam sclera, pada diskusi optikus membentuk saraf optikus ke otak (Cambridge, 1999).

Ambang penglihatan adalah jumlah cahaya minimum yang mencetuskan sensasi akan cahaya, ketajaman penglihatan adalah derajat persepsi detail dan kontur benda. Ketajaman penglihatan biasanya didiferensiasikan berkaitan dengan minimum separable, yaitu jarak terpendek dimana 2 garis masih terlihat terpisah dan tetap terlihat sebagai 2 garis. Secara klinis, ketajaman penglihatan sering ditentukan dengan menggunakan grafik huruf snellen yang dilihat dari suatu jarak 20 ft (6m) (Ganong, 1999).
Orang yang sedang diperiksa membaca garis terkecil yang masih dapat dibedakan dan hasilnya dinyatakan dalam fraksi. Pembilang fraksi tersebut adalah 20, jarak subjek membaca grafik, sedangkan penyebutan adalah jarak terjauh dari grafik dimana seorang yang normal dapat membaca grafik terkecil yang dapat dibaca orang yang diperiksa. Ketajaman penglihatan normal adalah 20/20, seorang dengan ketajaman penglihatan 20/15 memiliki penglihatan yang lebih baik dari pada normal (tidak rabun dekat) dan seseorang yang memiliki ketajaman penglihatan 20/100 memiliki penglihatan yang dibawah normal (Ganong, 1999).
Ketajaman penglihatan dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu factor optis misalnya keadaan mekanisme pembentukan citra pada mata, factor retina misalnya keadaan sel kerucut, dan factor rangsangan dan latar belakang, dan lama waktu subjek terpajan rangsangan ( Ganong, 1999).
2.      Visus (Ketajaman Penglihatan)
Untuk dapat melihat, stimulus (cahaya) harus jatuh direseptor dalam retina kemudian diteruskan ke pusat penglihatan (fovea centralis). Untuk dapat melihat dengan baik perlu ketajaman penglihatan. Ketajaman penglihatan inilah yang disebut visus. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan visus adalah :
a.      Sifat fisis mata, yang meliputi ada tidaknya aberasi (kegagalana sinar melewati suatu system optic), besarnya pupil, komposisi cahaya, fiksasi ojek, dan mekanisme akomodasinya dengan elastisitas muscular ciliarisnya yang dapat menyebabkan ametropia yang meliputi :
1)      Myopi, sinar sejajar axis pada mata tak berakomodasi akan memusat dimuka retina, sehingga bayangan kabur. Dapat disebabkan oleh : axis terlalu panjang, kekuatan reflaksi lensa terlalu kuat.
2)      Hypermetropia, sinar sejajar axis pada amata yang tak berakomodasi akan memusat dibelakang retina, sehingga bayangan kabur. Dapat disebabkan oleh : axis boala mata terlalu pendek, kekuatan reflaksi lensa kurang kuat.
3)      Artigmatisma, kesalahan reflaksi system lensa mata yang biasanya disebabkan oleh kornea yang berbentuk bujur sangkar atau jarang-jarang, dan lensa yang berbentuk bujur).
b.      Factor stimulus, yang meliputi kontras (terbentuknya bayangan benda yang berwarna komplemennya), besar kecilnya stimulus, lamanya melihat, dan intensitas cahaya.
c.       Factor retina, yaitu makin kecil dan makin rapat conus, makin kecil minimum separable (jarak terkecil antara garis yang masih terpisah).
Mengukur visus (Ketajaman Penglihatan)
            Untuk mengetahui visus adalah dengan menggunakan suatu pecahan matematis yang menyatakan perbandingan 2 jarak, yang juga merupakan perbandingan ketajaman penglihatan seseorang dengan ketajaman penglihatan orang normal. Dalam praktek digunakan optotype dari Snellen V= Visus d= jarak antara optotype dengan subjek yang diperiksa D=jarak sejauh mana huruf-huruf masih dapat dibaca mata normal.
            Punctum Proximum
            Visus berkaitan erat dengan mekanisme akomodasi seperti yang telah disebutkan di atas, adanya kontraksi akan menyebabkan peningkatan kekuatan lensa, sedangkan relaksasi bats maksimum, jika benda yang telah focus didekatkan lagi, maka bayangan akan kabur. Titik terdekat yang masih dilihat jelas oleh mata dengan akomodasi maksimum disebut punctum proximum (PP). Punctum Remotum adalah titk terjauh yang masih dapat dilihat dengan jelas tanpa mata berakomodasi adalah tidak terbatas. Kondisi ini disebut dengan punctum remotum (PR).
3.      Kelainan Mata
Apabila benda yang dilihat jatuh di depan fovea sentralis disebut rabun jauh (Myopi) dan dapat diatasi dengan lensa cekung (negative), bila benda yang dilihat jatuh dubelakang fovea sentralis disebut rabun dekat (hypermetropi), hal ini dapat diatasi dengan menggunakan lensa cembung ( positif). Seseorang yang mengalami rabun dapat diperbaiki dengan kacamata jenis silindris yang berfungsi untuk mengatasi kedua rabun tersebut, tetapi bila elastisitas lensa kristalina menurun karena usia dan pengapuran dapat terjadi buramnya/kaburnya penglihatan yang disebut sebagai katarak. Melihat satu benda dengan kadua belah mata maka benda tersebut dapat terlihat dengan baik karena jatuh ttik identik, tetapi bilah salah satu bola mata diganggu maka akan terlihat benda rangkap (diplopia) karena tidak jatuh di titik identik kelainan genetik yang terjadi adalah blind color (buta warna).
4.      Gejala / Ciri-ciri
Buta warna Total dan Partial
            Ada suatu kondisi dimana seseorang tidak dapat melihat warna sama sekali. Cacat tersebut dinamakan buta warna yang mempengaruhi total maupun sebagai kemampuan individu untuk membedakan warna. Variasi dari buta warna yang dibawa sejak lahir cukup nyata, antara lain :
a.      Akromatisme atau Akromatopsia, adalah kebutaan warna total dimana semua warna dilihat sebagai tingkatan warna abu-abu
b.      Diakromatisme, adalah kebutaan tidak sempurna yang menyatukan ketidakmampuan untuk membedakan warna-warna merah dan hijau. Untuk kesimpangsiuran warna ini ada tiga tipe, yaitu:
·         Deutrinophia, yaitu orang yang kehilangan kerucut hijau sehinggga ia tidak dapat melihat warna hijau
·         Protanophia, yaitu orang yang kehilangan kerucut merah sehingga ia buta warna merah
·         Tritanophia, yaitu kondisi yang ditandai oleh ketidakberesan dalam warna biru dan kuning dimana conus biru atau kuning tidak peka terhadap suatu daerah spectrum visual
5.      Factor yang mempengaruhi
Menurut Iltas (1997) ada beberapa factor yang mempengaruhi visus atau ketajaman melihat pada mata, yaitu :
a.      Kekerapan Reseptor pada Retina, Helmholtz menyatakan bahwa suatu kisi dapat dilihat sebagai suatu objek yang terpisah jika terdapat barisan reseptor yang tidak terstimulasi di antara barisan reseptor yang terstimulasi. Hal ini disebut sebagai Yes-No-Yes Reseptor pada reseptor di retina. Kesalahan Refraksi
b.      Refraksi adalah perubahan arah dari suatu gelombang (cahaya atau suara) ketika melewati medium yang berbeda indeks refraksinya. Kesalahan refraksi akan mempengaruhi VA oleh karena bayangan tidak jatuh tepat pada retina. Hal ini akan memburamkan gambaran detil dari suatu objek.
c.       Ukuran pupil meerupakan factor penting yang mempengaruhi VA. Pupil yang besar akan menyebabkan lebih banyak cahaya menstimuluskan retina, sehingga mengurangi difraksi yang terjadi.
d.      Iluminasi (Penerangan) dipengaruhi oleh iluminasi. Pada retina letak sel-sel kerucut dan sel-sel batang tersebar secara acak. Pada keadaan yang terang, semua sel aktif, sehingga didapatkan VA yang tinggi. Pada keadaan yang redup, hanya sel yang sensitif terhadap cahaya redup yang aktif. Oleh karena itu pada keadaan cahaya yang redup, kerapatan sel-sel reseptor akan berkurang. Hal inilah yang menyebabkan VA juga berkurang pada cahaya redup.
e.      Waktu Pajanan terhadap Objek, VA dipengaruhi oleh waktu pajanan terhadap objek. Namun untuk mendeteksi sebuah titik cahaya, kuantitas dari cahaya tersebut lebih menentukan daripada waktu pajanannya.
f.        Area Retina yang Distimulasikan, Oleh karena sel-sel kerucut yang lebih banyak terdapat pada fovea, VA terbesar didapatkan pada area fiksasi sentral.
g.      Pergerakan Bola Mata, Pada saat fiksasi, sebenarnya mata berada dalam keadaan pergerakan konstan. Bayangan di retina bergerak 3 menit busur dalam 1 detik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar